Pengamat: Dua Puluh Persen Warga Jakarta Mengalami Gangguan Kesehatan Jiwa



Pada tanggal 07 Maret 2017 kemarin, salah satu Cawagub DKI Jakarta yaitu Sandiaga Uno mengatakan “Tawuran itu mengindikasikan adanya gangguan kesehatan jiwa pada masyarakat. Sebanyak 20 persen warga Jakarta mengalami gangguan kesehatan jiwa baik sangat ringan sampai berat yang disebabkan mudahnya timbul rasa marah dan depresi yang disebabkan tekanan ekonomi dan kebijakan pemerintah,” ujar Sandiaga Uno.

Ketika menyebutkan kata warga Jakarta itu menyiratkan kepada seluruh penghuni yang tinggal dalam wilayah Jakarta dan tidak hanya kepada kaum pelajar. Dalam suasana Pilkada ini ada saja pernyataan yang dibuat terlalu mengada-ada. Setiap sudut menjadi topik pembicaraan dan di respon bahwa nanti akan dibereskan apabila dirinya terpilih menjadi Wakil Gubernur DKI Jakarta.

Calon wakil gubernur DKI Jakarta mengatakan, kesehatan jiwa di Jakarta adalah sebuah fenomena gunung es. Namun, kata Sandiaga, akar permasalahan dari kesehatan jiwa tersebut adalah persoalan kebijakan publik.

Jadi dalam hal ini, Sandiaga tampak melancarkan serangannnya kepada petahana bahwa seluruh permasalahan di Jakarta ini adalah akibat dari Gubernur dan Wakil Gubernur saat ini.

Di seluruh Jakarta pada November 2016, terdapat 2.677 orang psikotik atau gangguan jiwa yang berada di panti sosial milik Dinas Sosial DKI Jakarta. Bandingkan data yang dirilis tanggal 22 Desember 2016 dikutip dari www.kemendagri.go.id/pages/profil-daerah/provinsi/…/dki-jakarta, jumlah penduduk DKI Jakarta 9.988.495 jiwa. Lalu bagaimana Sandiaga Uno bisa mengatakan bahwa 20% warga Jakarta terkena gangguan kesehatan jiwanya.

Tuti menuturkan terdapat kakak beradik yang dibina di panti karena memiliki gangguan mental. Menurut dia, faktor genetik disertai ketidakpedulian keluarga dan lingkungan berdampak besar pada timbulnya gangguan kejiwaan. “Penyebab paling banyak karena tekanan ekonomi. Misalnya ingin anak dan istri hidup layak, tetapi tidak bisa mewujudkannya, jadi tekanan,” ujar Kepala Panti Sosial Bina Laras Harapan Sentosa 2 Tuti Sulistyaningsih di Jakarta, Rabu 14 Desember 2016.

Sekilas akan saya sampaikan apa yang disebut gangguan jiwa itu. Gangguan jiwa merupakan salah satu gangguan mental yang disebabkan oleh beragam faktor yang berasal dari dalam maupun luar. Gangguan mental ini dapat dikenali dengan perubahan pola pikir, tingkah laku dan emosi yang berubah secara mendadak tanpa disertai alasan yang jelas.

Pada umumnya terdapat tiga fakor yang mempengaruhi kejiwaan seseorang yakni :
• Faktor Somatogenik yang berkaitan dengan fisik biologis
• Faktor Psikogenik yang berkaitan dengan psikologis
• Faktor Sosiogenik yang berkaitan dengan sosial budaya serta lingkungan
Banyaknya beban pikiran atau persoalan hidup yang mendesak dapat menjadikan seseorang kehilangan kendali pada kejiwaannya sendiri. Puncaknya ketika kontrol diri tidak lagi bisa dipertahankan maka otak tidak mampu berkerja dengan baik. Ketika seseorang mulai mengalami gejala gangguan jiwa seperti perubahan mood secara drastis, takut yang berlebihan, emosi yang meluap-luap serta menarik diri dari kehidupan sosial maka segera tangani sesuai ketentuan medis.

Penyebab dari gangguan kejiwaan sangat bervariatif seperti berikut ini :
1. Faktor Genetik atau Keturunan
Jika dalam silsilah keluarga terdapat riwayat gangguan kejiwaan maka keturunannya juga berpotensi mengalami gangguan medis serupa. Hal ini karena adanya keterkaitan gen pada anak yang didapatkan dari orang tuanya. Untuk itu, bagi seseorang yang memang mempunyai riwayat gangguan medis ini sebaiknya tetap menjaga gaya hidup sehat serta menghindari hal-hal yang dapat memicu datangnya gejala gangguan jiwa.

2. Nerokimia
Faktor yang menyebabkan terjadinya gangguan kejiwaan bisa juga diakibatkan oleh nerokimia dimana kromosom no 21 mengalami gangguan. Penderita pada umumnya akan mengalami gangguan perkembangan atau down syndrome yang menyebabkan keterbelakangan mental.

3. Faktor Sosial Budaya dan Lingkungan
Karakteristik atau pola perilaku seseorang dapat terbentuk berdasarkan lingkungan sekitar bahkan kebudayaan di wilayah tertentu. Tipe gangguan jiwa juga dapat terbentuk dari perubahan perilaku yang disebabkan oleh akulturasi budaya. Ketidakmampuan seseorang untuk beradaptasi di wilayah tertentu juga sangat berpotensi untuk memicu datangnya gejala gangguan jiwa pada seseorang.


4. Faktor Cacat Kongenital
Gangguan kejiwaan yang disebabkan oleh faktor kecacatan kongenital ini terjadi sejak lahir atau bawaan lahir. Dimana ketika seseorang terlahir dengan kondisi yang tidak normal dari segi mental maka perkembangan jiwanya juga akan terpengaruh. Semakin parah keterbatasan atau cacat yang dimiliki akan menentukan seberapa dalam pengaruhnya pada kejiwaan anak orang tersebut.

5. Faktor Jasmaniah
Penelitian membuktikan bahwa faktor jasmaniah seseorang dapat berpotensi memicu terjadinya gangguan kejiwaan. Bentuk tubuh ini secara langsung juga akan memicu kecenderungan gangguan tertentu. Bentuk tubuh endoform atau gemuk dan ectoform atau kurus, keduanya sama-sama berpotensi memicu gangguan jiwa. Selain itu, bagi seseorang yang mempunyai tinggi badan yang tidak normal juga sangat berpotensi mengalami kecenderungan serupa.

6. Faktor Deprivasi
Seperti pada pendefinisian deprivasi itu sendiri yang berarti kehilangan fisik, kejiwaan seseorang dapat terguncang ketika mengalami hal ini. Mayoritas orang yang terlahir dengan fisik sempurna namun karena beragam sebab, harus kehilangan beberapa anggota badannya pasti akan mengalami penyebab depresi berat yang biasanya berlanjut pada gangguan kejiwaan. Misalkan seseorang yang harus diamputasi kakinya karena kecelakaan dan terluka parah. Meskipun jalur amputasi atau pemotongan bagian tubuh tersebut bertujuan untuk menyelamatkan hidupnya namun, tetap saja penderita akan merasa shock berat dan sulit menerima kenyataan.

7. Faktor Tempramen atau Peluapan Emosi yang Berlebihan
Tingkat kepekaan seseorang antara satu dengan lainnya biasanya mempunyai kadar yang berbeda-beda. Dimana ketika tingkat kepekaan tersebut cenderung pada arah sensitif maka, biasanya orang tersebut akan bermasalah pada kejiwaan. Hal ini karena adanya ketegangan dan merasa apa yang terjadi tidak sesuai dengan harapan orang tersebut. Semua perasaaan tersebut akan terakumulasi menjadi luapan emosi yang berlangsung terus menerus bahkan cenderung berlebihan.

8. Penggunaan Obat-Obatan Terlarang
Penggunaan obat terlarang yang bersifat adiksi untuk menanggulangi stres akan tekanan hidup nyatanya justru dapat memicu terjadinya gejala gangguan kejiwaan pada pemakainya. Zat adiksi yang mempunyai efek ketergantungan bagi pemakainya ini akan merubah persepsi seseorang kedalam hal-hal yang dapat merusak saraf motorik didalam tubuh. Selain itu, proses berpikir yang melibatkan kinerja otak tidak akan berjalan sebagaimana mestinya akibat pengaruh dari zat adiksi yang terkandung didalam obat-obatan terlarang tersebut.

9. Patologi Otak
10. Terjangkit Penyakit
11. Trauma akan Penolakan
12. Deprivasi Parental
13. Keluarga Patogenik
14. Struktur Patogenik dalam Sebuah Keluarga
15. Pengalaman Menyakitkan dan Kekecewaan Mendalam
16. Stress Berkepanjangan
17. Pendidikan Secara Otoriter
18. Kesenjangan Antara Harapan dan Kenyataan
19. Faktor Ekonomi yang Rendah
20. Merasa Dikucilkan oleh Lingkungan
21. Terganggunya Fungsi Otak
22. Berkepribadian Introvert atau Tertutup
23. Reaktifitas Susunan Saraf Vegetatif
24. Perkembangan Psikologik
25. Pribadi yang Persionis dan Ambisius
26. Perkembangan Otak Janin Terganggu
27. Difusi Identitas pada Masa Remaja

Dari seluruh paparan diatas jelaslah bahwa gangguan kesehatan jiwa lebih disebabkan karena kurangnya aktivitas sosial masyarakat. Hal ini mendapat tanggapan dari Pemerintahan Provinsi DKI Jakarta di bahwa komando Ahok langsung bereaksi dan berhasil mendirikan 188 Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA).

Ahok berasumsi bahwa dengan dibangunnya RPTRA ini maka masyarakat dapat lebih leluasa untuk berinteraksi satu dengan yang lainnya. Anak-anak dapat bermain sesuai dengan tumbuh kembangnya. Lalu hal seperti apa lagi yang harus dilakukan Bung Sandi?

Ach…Bung Sandi semoga artikel ini dapat mencerahkanmu dan warga Jakarta.
Ayooo……pusingkan Bung Sandiaga Uno.

(seword/LN)
loading...

0 Response to "Pengamat: Dua Puluh Persen Warga Jakarta Mengalami Gangguan Kesehatan Jiwa"

Posting Komentar